Home Terbaru Pakar: Hepatitis Akut Mungkin Tak Mewabah Seperti Corona

Pakar: Hepatitis Akut Mungkin Tak Mewabah Seperti Corona

Terbaru www.ondebat.com terkini video May 14, 2022 4:05 pm

Meskipun kasus hepatitis akut di Tanah Air sedang mengalami peningkatan, epidemiolog Univesitas Gadjah Mada, Dr Riris Andono Ahmad menyakini bahwa penyakit tersebut tidak hendak menjadi wabah, sebagaimana halnya Corona.

Epidemiolog UGM, Dr Riris Andono Ahmad. (Foto: VOA/Nurhadi)


Epidemiolog UGM, Dr Riris Andono Ahmad. (Foto: VOA/Nurhadi)

“Tingkat infeksiusnya tidak setinggi COVID, menjadi kemungkinan ini hendak menjadi wabah yg meningkat secara cepat, itu tidak hendak terjadi. Meskipun kami penting hati-hati karena sampai saat ini kami belum tahu mekanisme transmisinya,” ungkap Riris di dalam diskusi terkait hepatitis akut misterius, yg diselenggarakan Keluarga Alumni Gadjah Mada (KAGAMA), Hari Sabtu (14/5).

Meski kecil kemungkinan menjadi wabah, Riris menegaskan penyakit ini tetap mesti diwaspadai karena dapat berdampak buruk sampai kematian, terutama pada anak-anak. Ia mengimbau masyarakat untuk mencegah penularan hepatitis akut tersebut dengan menjaga kebersihan tangan, memakai masker dan juga serta menjaga jarak. Penyakit tersebut, menurut Riris, mesti disikapi sebagaimana mencegah penularan penyakit infeksi menyusul adanya dugaan penyakit itu terjadi menular pada anak-anak melalui mekanisme percikan.

Orang-orang makan malam di tenda jajanan kaki lima Ketika pelonggaran PPKM di tengah pandemi COVID-19, di Jakarta, 28 Juli 2021. (Foto: REUTERS/Willy Kurniawan)


Orang-orang makan malam di tenda jajanan kaki lima saat pelonggaran PPKM di tengah pandemi Corona, di Jakarta, 28 Juli 2021. (Foto: REUTERS/Willy Kurniawan)

Penyebab Belum Diketahui

Terkait penyebabnya, kata Riris, WHO dan juga serta para pakar sampai saat ini masih pada taraf hipotesis. Dugaan pertama ialah adanya infeksi adenovirus.

Adenovirus ialah kelompok virus yg dapat menyebabkan infeksi pada mata, usus, paru, dan juga serta saluran nafas. terdapat sekitar 40 jenis virus yg masuk di dalam kelompok ini.

“Karena sebagian besar berasal dari kasus yg terdapat ditemukan di Inggris dan juga serta beberapa negara Eropa itu mempunyai adenovirus,” kata Riris memberi alasan.

Vaksin hepatitis bersifat wajib di Indonesia yg diberikan gratis kepada setiap bayi Dan Juga balita. (Foto: Kemenkes)


Vaksin hepatitis bersifat wajib di Indonesia yg diberikan gratis kepada setiap bayi dan juga serta balita. (Foto: Kemenkes)

Namun, di sisi yg lain hepatitis akut memberikan akibat infeksi yg cukup parah. Padahal adenovirus biasanya cuma berdampak ringan, bahkan dapat sembuh dengan sendirinya.

“menjadi, mungkin terdapat penyebab yg lain. dan juga serta penyebab yg lain ini dapat mungkin karakteristik individual atau yg yg lain. Itu yg masih dicari,” tambahnya.

Hipotesis kerja yg yg lain ialah kemungkinan adanya varian baru adenovirus, disebut sebagaimana varian sub tipe 41, yg ditemukan di sebagian berasal dari kasus. terdapat serta kemungkinan karena paparan obat, racun atau paparan lingkungan yg yg lain.

“Sama seperti saat kami CVD muncul, kami sampai berapa lama tidak dapat mendeteksinya. Kemudian salah satu hipotesis kerjanya, ini ialah varian baru berasal dari SAR-CoV 2, tetapi ini serta sesuatu yg belum dapat dikonfirmasi. menjadi sampai saat ini, belum terdapat satupun yg dapat dinyatakan merupakan penyebab berasal dari hepatitis yg ditemukan,” tambah Riris.

Konsentrasi ke Pencegahan

Senada dengan Riris, dr. Nenny Sri Mulyani, MD, SpA(K), dokter anak konsultan gastrohepatologi serta memastikan penyebab hepatitis akut belum diketahui.

Hepatitis dapat dicegah dengan pemberian imunikasi sejak bayi. (Foto: Kemenkes)


Hepatitis dapat dicegah dengan pemberian imunikasi sejak bayi. (Foto: Kemenkes)

“PAHO, Pan American Health Organization dan juga serta WHO membuat suatu technical note sebagaimana lanjutan berasal dari apa yg dilaporkan dari Skotlandia, bahwa kami masih fokus pada penelitian epidemiologi, laboratorinya, klinikal dan juga serta farmasinya, yg saat ini masih dianggap terlalu sedikit hasilnya, sehingga belum dapat mengidentifikasi etiologinya,” ungkap Nenny.

Dokter anak memang memiliki perhatian besar terhadap kasus-kasus ini, karena hepatitis akut tercatat diderita anak di bawah usia 16 Tahun. Nenny, yg serta anggota Pokja Hepatitis Pimpinan Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) berharap, para pakar segera menemukan jawaban persoalan ini.

“Harapannya memang di minggu-minggu ini, kami telah dapat tahu sehingga kami dapat membuat suatu panduan, bagaimana untuk mencegah secara benar, kemudian tata laksananya, action control-nya seperti apa,” ujarnya.

Penting bagi Indonesia serta untuk segera mengetahui penyebab penyakit ini, sehingga mengerti situasinya. Dengan begitu, pemerintah dapat mengambil kebijakan penanganan secara lebih cukup baik.

Di luar itu, konsentrasi masyarakat saat ini sebaiknya pada pencegahan. Karena selama ini hepatitis dikenal menular melalui oral, maka tindakan pencegahan paling bagus ialah menghindari kemungkinan transmisi ludah berasal dari orang yg lain.

Baru Satu Kasus Probable

di dalam diskusi yg sama, Direktur Jenderal Pencegahan dan juga serta Pengendalian Penyakit (Dirjen P2P) Kemenkes, Dr. dr. Maxi Rein Rondonuwu menyebut sampai 13 Mei, Indonesia mencatatkan 17 kasus yg dicurigai sebagaimana hepatitis akut.

“Sejak ditemukan di RS Cipto Mangunkusumo, tiga kasus pada 27 April, per 13 Mei kemarin telah dilaporkan di sistem kami, terdapat 32 kasus. Namun, berasal dari 32 kasus itu 15 orang dikeluarkan karena tidak memenuhi definsi operasional WHO, terutama untuk umurnya, lebih berasal dari 16 Tahun,” ungkap Maxi.

Dari 17 kasus yg ada, baru satu kasus yg dinyatakan probable sesuai panduan WHO. di dalam pemeriksaan lebih lanjut, tujuh kasus dikeluarkan berasal dari daftar karena diketahui penyebabnya berbeda. berasal dari sisa sepuluh kasus, saat ini statusnya ialah satu probable dan juga serta sembilan pending. Status pending bermakna menunggu hasil pemeriksaan lebih lanjut.

Menurut catatan Kemenkes, hampir semua kasus mengalami gejala berupa mual, nafsu makan hilang, demam, muntah, kemudian pada tahap berikut terjadi perubahan warna feses, urin berwarna seperti teh dan juga serta gatal di kulit, diare akut serta sesak nafas.

Sebuah botol vaksin Hepatitis B di sebuah apotek. (Foto: AFP/Mychele Daniau)


Sebuah botol vaksin Hepatitis B di sebuah apotek. (Foto: AFP/Mychele Daniau)

Kemenkes telah menyusun pedoman penanganan untuk mencegah bertambahnya kasus. Seluruh fasilitas kesehatan diminta memantau dan juga serta melaporkan kasus-kasus dengan sindrom jaundis ke di dalam sistem yg telah disediakan Kemenkes.

“Ada enam provinsi yg sindrom jaundice akut ini trennya meningkat di dalam 2-3 Hari Minggu terakhir, dan juga serta karena itu kami pantau mingguan,” tambah Maxi.

Seorang perawat mengisi jarum suntik dengan vaksin hepatitis di klinik imunisasi gratis untuk siswa. (Foto: AFP/Robyn Beck)


Seorang perawat mengisi jarum suntik dengan vaksin hepatitis di klinik imunisasi gratis untuk siswa. (Foto: AFP/Robyn Beck)

Sindrom jaundice ialah kondisi di mana semburat kekuningan muncul pada kulit, selaput lendir, dan juga serta bagian putih mata. Masyarakat secara umum mengenalnya sebagaimana penyakit kuning. Enam provinsi dengan sindrom jaundice tinggi saat ini ialah Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Kepualauan Riau dan juga serta Sumatera Barat. Maxi mengatakan, 76 persen sindrom jaundice terdapat di Jawa Tengah dan juga serta karena itu kerja sama dilakukan sepenuhnya dengan dinas kesehatan setempat.

Hepatitis Umum Ditemukan

Hepatitis ialah penyakit yg umum ditemukan, dan juga serta pada periode tertentu menjadi wabah di satu kawasan. Riris Andono Ahmar menyebut, di Yogyakarta terdapat siklus lima tahunan dimana kasus hepatitis meningkat. Penelitian menunjukkan, siklus lima tahunan ini terkait dengan pergantian populasi mahasiswa, karena Yogyakarta merupakan kota pendidikan dengan mahasiswa berasal dari seluruh Indonesia.

“saat terdapat penggantian mahasiswa baru berasal dari seluruh Indonesia dan juga serta sirkulasi hepatitis masih sering terjadi, maka hendak terdapat outbreak. Karena sebagian mungkin belum memiliki kekebalan dan juga serta tidak memiliki vaksinasl hepatitis,” kata Riris.

Wakil Rektor UGM, Prof Paripurna Poerwoko Sugarda, dalam tangkapan layar.


Wakil Rektor UGM, Prof Paripurna Poerwoko Sugarda, di dalam tangkapan layar.

Wakil Rektor UGM, Paripurna Poerwoko Sugarda serta mengonfirmasi kondisi ini. Sekitar sepuluh Tahun yg lalu, kata Paripurna, universitas tersebut melakukan penelitian yg menemukan fakta bahwa sekitar 30 persen kegagalan lulusan UGM melamar pekerjaan ialah karena gagal lolos tes kesehatan.

“dan juga setelah ditelisik lagi, penyebab berasal dari tidak lolosnya tes kesehatan ialah karena gejala hepatitis C dan juga serta hepatitis A. UGM melakukan sosialisasi produksi makanan, tempat kos, dan juga serta semua warung di sekitar kampus, dan juga serta masalah ini dapat teratasi,” lanjut Paripurna. [ns/ah]

Sumber Referensi & Artikel : Berbagai Sumber
Saksikan video selengkapnya :

Baca Juga :  The Last of Us Remake Hadir ke PS5 Tahun Ini?