Home Terbaru William Wongso: Istilah promosi masakan Indonesia tak lagi efektif

William Wongso: Istilah promosi masakan Indonesia tak lagi efektif

Terbaru www.ondebat.com terkini video May 14, 2022 4:15 am

Jakarta (ANTARA) – Pakar masakan William Wongso telah sekitar 20 Tahun melakukan promosi masakan Indonesia di luar negeri dan juga serta menurut Ia penggunaan istilah promosi masakan Indonesia tak terlalu efektif.

“20 Tahun saya lakukan promosi masakan Indonesia di mancanegara, awalnya selalu pada istilah promosi masakan Indonesia, itu tidak terlalu efektif. Sekarang kami telah mulai sadar, bukan bentuk promosi masakan tapi kami memperkenalkan culinary culture atau budaya masakan,” ungkap Ia di sela peluncuran Indonesia’s Geographical Indication Show (IGIS) 2022 secara daring, Jumat.

Pengenalan budaya masakan termasuk keunikan, kualitas dan juga serta reputasi produk yg dihasilkan saat ini serta menjadi usaha yg dilakukan pemerintah yg satunya melalui program Indonesia’s Geographical Indication Show (IGIS) 2022.

Baca Juga :  10 Potret Penginapan Inul Daratista ‘Saygon Cottage’, Ada Ruang Biliar di Tepi Sawah, Keren Abis!

IGIS 2022 mengeksplorasi keunikan yg menjadi ciri khas setiap Indikasi Geografis di dalam bentuk video dokumenter, cooking show, resep olahan produk Indikasi Geografis, side talk show, dan juga serta webinar.

Melalui pendekatan jurnal masakan, program ini serta bertujuan mengajak seluruh pihak, mulai berasal dari pemilik modal, eksportir, potential buyer, asosiasi, komunitas, pecinta masakan, praktisi masakan, penggiat usaha, pemangku kebijakan, sampai masyarakat umum untuk lebih meningkatkan dukungannya pada usaha pemberdayaan masyarakat, peningkatan daya saing, dan juga serta penguatan posisi Indonesia melalui keaslian dan juga serta kualitas produk yg premium.

Kemudian, sebagaimana bentuk keterwakilan, di dalam IGIS 2022 terdapat sepuluh produk unggulan Indikasi Geografis Indonesia yg dihadirkan antara yg lain Beras Adan Krayan, Garam Bali Amed, Lada Luwu Timur, Kopi Arabika Gayo, Kayu Manis Koerintji, Gula Kelapa Kulonprogo Jogja, Teh Java Preanger, Lada Putih Muntok, Cengkih Minahasa dan juga serta Pala Siaw.

Baca Juga :  Pemda DIJ Larang ASN Gunakan Kendaraan Dinas untuk Mudik Lebaran

Menurut William, Indonesia membutuhkan program-program yg memperkenalkan masakan khususnya rempah-rempah berkualitas dengan sertifikasi Indikasi Geografis atau GI supaya produk-produk itu mendapatkan nilai ekonomis tinggi.

“akibat GI hendak meningkatkan penghasilan petani rempah-rempah. ini telah terjadi di bidang perkopian. Dulu petani kopi asal kuantitas sekarang telah menuju kualitas karena kesadaran konsumen untuk menikmati kopi berkualitas, sangat tinggi,” tutur dia.

Dia berharap program-program semacam ini dapat mulai diperkenalkan serta pada masyarakat Indonesia dan juga serta dimulai berasal dari level sekolah menengah kejuruan.

“Saya ingin ke depannya, program-program memperkenalkan rempah-rempah berkualitas dengan sertifikasi GI mesti dilakukan mulai berasal dari level sekolah menengah kejuruan sampe ke atas supaya tidak terdapat lagi masyarakat pesan lada putih atau hitam, tapi dengan embel-embel,” kata dia.

Baca Juga :  Apple Siapkan Kamera Telefoto Periskop di iPhone 15

Berbicara rempah dan juga serta bumbu, menurut William keduanya berbeda. Rempah merupakan komoditi sementara bumbu yaitu pasta atau bahan segar yg dilumatkan dan juga serta ditumis dengan minyak menjadi satu produk konsentrat untuk diaplikasikan sesuai dengan budaya masakan masing-masing daerah.

Baca serta: Tips bawa oleh-oleh makanan Indonesia ke luar negeri

Baca serta: Resep omelet rendang nikmat ala Gordon Ramsay

Baca serta: Rendang Indonesia “go international” di Hongaria
 

Pewarta: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2022

Sumber Referensi & Artikel : Berbagai Sumber
Saksikan video selengkapnya :